Konsep Omoiyari selama Masa Pandemi COVID 19

Avatar
Dandy Hidayatulloh, Dandy Hidayatulloh, Bahasa dan Kebudayaan Jepang 2017, Universitas Al-Azhar Indonesia

Wartacakrawala.com – Pada 31 Desember 2019, World Helath Organization atau WHO memberitakan kepada dunia tentang virus baru bernama Corona atau lebih sering disingkat COVID 19 di Wuhan, Republik Rakyat China.

Penyebab penyakit ini adalah virus Corona baru yang bernama SARS-CoV-2. World Health Organization atau WHO akhirnya menetapkan virus corona pada 11 maret 2020 sebagai sebuah pandemi.

Penyebaran COVID-19 yang sangat cepat lewat kontak langsung antara individu menyebabkan pemerintah dari berbagai negara mengeluarkan beberapa peraturan baru seperti menjaga jarak, mengindari kerumunan, mengenakan masker hingga himbauan untuk tetap tinggal di rumah. Semua ini digunakan untuk meminimalisir penyebaran virus Corona.

Hal ini berpengaruh kepada pendapatan ekonomi. Karena semua orang diimbau untuk menjaga jarak dan menghindari kerumunan banyak toko dan restoran yang menjadi sepi. Para pelaku industri hiburan juga terdampak karena tidak dapat melangsungkan konser yang mendatangkan banyak masa. Hal ini menyebabkan banyak kerugian dan menyebabkan orang menjadi lebih banyak sendiri.

Baca juga: Pentingnya Menyerap Informasi Kesehatan Secara Benar

Dalam budaya Jepang, terdapat konsep Omoiyari 「思いやり」yang merupakan norma dasar yang dimiliki oleh Orang Jepang dan menjadi salah satu pilar utama dalam budaya Jepang Lebra (1976, p. 38).

Konsep ini dapat dijelaskan sebagai kemampuan untuk merasakan hal yang orang lain rasakan, apakah itu hal baik atau buruk, suka ataupun duka, serta menolong orang lain untuk meraih apa yang mereka inginkan.

Jika ditinjau dari sisi psikologi, omoiyari「思いやり」 seperti empati dan simpati tercermin dalam perilaku prososial. Contohnya, saat terjadi bencana alam, warga yang mengalami musibah di suatu daerah memperoleh bantuan oleh warga dari daerah lain sebagai ungkapan dari bentuk rasa empati.

Selama masa pandemi Covid 19, banyak orang merasa sendiri dan terpuruk dalam kesedihan. Budaya 思いやり (omoiyari) mengajarkan kita untuk peduli dan memiliki rasa simpati terhadap sesama. Kepedulian yang dapat kita berikan bukan hanya secara materil namun juga mental.

Dalam saat-saat seperti ini, kepedulian antara satu dengan yang lain sangat dibutuhkan. Oleh sebab itu, Budaya Jepang berupa konsep Omoiyari 「思いやり」 dapat kita aplikasikan pada masa pandemi Covid-19.

Budaya Omoiyari 「思いやり」 yang dapat kita lakukan saat pandemi antara lain mematuhi protokol kesehatan, mengadakan program amal, membagikan sembako, memberkan masker dan alat pelindung diri (APD), tetap berada di rumah dll, yang bisa dimaknai sebagai tindakan kepedulian terhadap sesama yang merupakan cerminan dari konsep budaya Omoiyari selama masa pandemi.

Kita sebagai umat manusia bisa lebih memperhatikan sekitar kita, saling membantu satu sama lain, bisa saling menguatkan, terlebih dalam masa pandemi Covid 19.

Seperti dalam Q.S Al-Maida ayat 2 yang berbunyi:

…..وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ……

Yang artinya:
”… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan….”

*)Penulis: Dandy Hidayatulloh, Dandy Hidayatulloh, Bahasa dan Kebudayaan Jepang 2017, Universitas Al-Azhar Indonesia

*)Tulisan opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Wartacakrawala.com

*) Opini di Wartcakrawala.com terbuka untuk umum

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim

Total
10
Shares
10 Share
0 Tweet
0 Share
0 Share
0 Share
0 Share
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Mahasiswa Pmm Umm Ajak Anak Panti Asuhan Membuat Mading Inovatif, Melatih Kreativitas Anak

Next Post

Kiat Jadi Konten Kreator Andal, Bisa Dilakukan Siapa Saja

Related Posts
Total
10
Share