Pandemi dan Kelompok Agamis Namun Pragmatis

Luluk Mukarromah
Ilustrasi pragmatisme di masa pandemi, gambar: freedomnesia

Wartacakrawala.com – Kita semua tahu bahwa mayoritas penduduk Indonesia beragama muslim. Beberapa kota dan pulau bahkan dijuluki sebagai kota seribu masjid atau pulau dengan seribu surau. Menjadi negara dengan beraneka agama termasuk mayoritas dan minoritas memang menyenangkan sekaligus menegangkan. Menyenangkan jika warga sekitar yang beraneka itu dewasa dalam berperilaku, tidak sempit visinya dan selalu memberikan respon positif dalam menghadapi sesuatu; sesulit apapun itu.

Dalam menghadapi arus globalisasi, masyarakat komunal Indonesia ternyata tidak memegangi identitas lokal kesukuan. Dalam konteks nasional, agama menjadi pilihan dalam penampilan dan jati diri. Kenyataannya, agama menyatukan banyak kelompok yang berbeda dan sekaligus wahana solidaritas global. Agama menjadi identitas dan sangat kental dalam sektor politik dan ekonomi akhir-akhir ini.

Era keterbukaan Reformasi justru ditandai dengan naiknya pamor sentimen keagamaan di ruang publik. Di lapangan nyata, baik partai nasionalis ataupun partai dengan sokongan kelompok keagamaan merapat ke sentimen itu. Secara sadar atau tidak, relasi agama dan politik telah diperkuat oleh para politisi dan tokoh masyarakat. Melambungnya sentimen ketaatan simbolis di masyarakat kita bisa dilihat dari penampilan di depan khalayak, dan giatnya pembangunan tempat ibadah. Perbincangan publik selalu mengarah pada ketaatan.

Sejauh mata memandang terlihat pembangunan fisik tempat ibadah bermunculan di mana-mana, terlepas apakah sebenarnya dimanfaatkan untuk ibadah atau belum sempat digunakan. Media elektronik dan media sosial dipenuhi dengan acara keagamaan, dari sinetron, drama, talk-show, pengajian, dan ceramah. Ini semua menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menempatkan agama pada level tertinggi.

Perkumpulan keagamaan menjadi kebutuhan. Doa bersama dan ibadah massal sedang menuai musimnya. Mitigasi pencegahan penyebaran virus corona hendaknya melihat faktor keagamaan, dan mungkin menjadikan para tokoh agama sebagai mitra dalam penyadaran masyarakat. Para pemimpin agama hendaknya diajak bersama untuk berbicara dalam bahasa kesalehan yang mudah dimengerti. Mereka kita harapkan mengajak ummat untuk menghindari ritual massal dan perkumpulan-perkumpulan.

NU (Nahdlatul Ulama) dan Muhammadiyah sudah memberi contoh, menunda muktamar besar mereka. Namun, banyak organisasi keagamaan di luar arus utama itu dan banyak kelompok di luar kendali kekuatan besar. Buktinya, masjid-masjid masih banyak yang beroperasi tanpa mempertimbangkan protokoler jarak antar jemaah. Seruan lebih intensif mungkin diperlukan. MUI (Majelis Ulama Indonesia) diperlukan dalam memberi dalil agamis dengan isi peringatan agar menjaga jarak antarindividu. Gereja, kapel, pura, wihara, dan tempat-tempat ibadah lain hendaknya juga dilibatkan dalam seruan ini.

Pragmatisme ditandai dengan mengutamakan nilai guna daripada idealitas. Dalam politik kita, terutama setelah demokrasi langsung dalam banyak gawe politik, para pemilih terkesan pragmatis, tidak idealis. Pemilu dan pilkada berjalan dengan memegang pragmatisme massa. Sudah menjadi rahasia umum, karena diperbincangkan tidak hanya di forum ilmiah, tetapi juga di warung-warung kopi, gardu-gardu ronda, dan tongkrongan lain. Masyarakat kita mudah tergoda untuk menerima amplop dari para kandidat peserta laga pilihan lokal dan nasional, baik eksekutif atau pun legislatif. Bahkan diskusi terbuka rata-rata menghitung berapa jumlah per amplop yang diterima dari para pemilih sebelum pergi ke bilik pencoblosan. Pragmatisme ini terlihat juga dalam banyak keputusan politis sekala kecil dan besar, tidak hanya dalam hal memilih kandidat pemimpin.

Watak pragmatisme lain bisa dilhat pada perkawinan antara agama dan konsumerisme. Ini tentu menguntungkan pasar ekonomi bagi yang menangkap itu sebagai peluang. Banyak usaha bisnis sukses karena dikaitkan dengan faktor sentimen keimanan: biro perjalanan ziarah ke tempat suci, pemasaran pakaian simbol ketaatan, obat-obatan dan mantra-mantra penyembuhan, dan lain-lain. Toko laris di kota-kota besar terlihat pada produk fashion ke arah kesalehan. Di bandara-bandara seluruh negeri penuh sesak dengan penumpang tujuan ziarah ke Tanah Suci. Ini adalah perkawinan baru di era global, agama dan pasar ekonomi. Pragmatisme melahirkan kelenturan dan ini kesempatan bagi mitigasi penyebaran virus corona.

Namun suasana juga bisa menegangkan jika warga tersebut punya wawasan sempit dan selalu mengkaitkan banyak hal dengan irisan agama atau ras. Visi sempit dan rasis warga juga sering menumbuhkan cara berfikir negatif sehingga menumpulkan logika dan hanya berfikiran ala logikanya sendiri.

Seperti pada soal pandemi Covid-19 kali ini. Meski bukan pandemi yang pertama melanda dunia, namun secara jujur kita harus akui bahwa pandemi yang lalu-lalu itu hanya kita kenal melalui study dan literatur global. Soal bangaimana rincian penanggulangannya tidak ada.

Pandemi kali ini memang menyesakkan dada kita. Bukan hanya secara dahsyat dapat membuat masyarakat global luluh lantak, namun membuat banyak negara kalangkabut dalam menganggulanginya, bukan hanya soal kesehatan namun juga punya dampak sosial, budaya, ekonomi, agama dan lain sebagainya.

Baca juga: Ini Dia Hikmah Dibalik Pandemi Covid-19 Terhadap Kondisi Lingkungan

Yang lebih menyesakkan dada jika persoalan pandemi Covid-19 ini diakaitkan dengan ras dan agama. Pada awal-awal pandemi ini, banyak rumah ibadah yang tidak mempercayai adanya virus berbahaya ini. Mereka tetap beribadah seperti biasanya tanpa mengundahkan protokol kesehatan. Ke-ngeyelan warga mencapai puncaknya saat adanya pelarangan mudik saat Idul Fitri lalu.

Pelarangan ini tentu saja sudah dipertimbangkan secara masak karena beberapa waktu sebelumnya ada semacam tsunami Covid-19 di India setelah melakukan upacara keagamaan. Mereka melakukan mandi bersama di sungai Gangga tanpa mengindahkan protokol kesehatan. Akibatnya bisa disuga, rumah sakit di India kolaps, mayat-mayat tertumpuk di sungai dan jalanan. Meski Indonesia tidak separah India, namun peningkatan pasien karena Covid-19 pasca Idul Fitri menjadi sorotan dunia.

Banyak rumah sakit yang kewalahan karena Covid-19. Tabung oksigen menjadi langka dan banyak lansia yang meninggal. Pada saat seperti itu, masih ada saja sebagian masyarakat yang menggunakan energinya untuk menghasut. “Jika terjadi banjir kita lari ke masjid. Jika terjadi bencana, kita kumpul di masjid. Kok, ada virus kita disuruh menjauh dari masjid?” adalah salah satu provokasi yang tersebar dan viral di media sosial.

Itulah masyarakat yang pragmatis,Istilah pragmatisme berasal dari kata Yunani “pragma” yang artinya perbuatan atau tindakan. “Isme” di sini sama artinya dengan isme-isme yang lainnya, yaitu aliran atau ajaran atau paham. Dengan demikian, pragmatisme berarti ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Kriteria kebenarannya adalah “faedah” atau “manfaat”. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Dengan kata lain, suatu teori adalah benar apabila teori dapat diaplikasikan.

Pada awal perkembangannya, pragmatisme lebih merupakan suatu usaha- usaha untuk menyatukan ilmu pengetahuan dan filsafat agar filsafat dapat menjadi ilmiah dan berguna bagi kehidupan praktis manusia. Sehubungan dengan usaha tersebut, pragmatisme akhrinya berkembang menjadi suatu metode untuk memecahkan berbagai perdebatan filosofis-metafisik yang tiada henti-hentinya, yang hampir mewarnai seluruh perkembangan dan perjalanan filsafat sejak zaman Yunani Kuno.

Pragmatisme telah membawa perubahan yang besar terhadap budaya Amerika dari lewat abad ke-19 hingga kini. Falsafah ini telah dipengaruhi oleh teori Charles Darwin dengan teori evolusinya dan Albert Einstein dengan teori relativitasnya. Falsafah ini cenderung kepada falsafah epistemologi dan aksiologi dan sedikit perhatian terhadap metafisik. Falsafah ini merupakan falsafah di antara idea tradisional mengenai realitas dan model mengenai nihilisme dan irasionalisme. Ide tradisional telah mengatakan bumi ini tetap dan manusia mengetahui hakiki mengenai bumi dan perkara-perkara nilai murni, sementara nihilisme dan irasionalisme adalah menolak semua dugaan dan ketentuan.

Dalam usahanya untuk memecahkan masalah-masalah metafisik yang selalu menjadi pergunjingan berbagai filosofi itulah pragmatisme menemukan suatu metoda yang spesifik, yaitu dengan mencari konsekuensi praktis dari setiap konsep atau gagasan dan pendirian yang dianut masing-masing pihak. Dalam perkembangannya lebih lanjut, metode tersebut diterapkan dalam setiap bidang kehidupan manusia. Karena pragmatisme adalah suatu filsafat tentang kehidupan manusia maka setiap bidang kehidupan manusia menjadi bidang penerapan dan filsafat yang satu ini.

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) diundang untuk menjelaskan situasi terakhir terkait pandemi coronavirus disease 2019 (covid-19) dalam pertemuan Dewan Kamar Dagang Internasional (ICC) yang dilakukan secara daring. ICC merupakan organisasi bisnis terbesar di dunia yang mewakili lebih dari 45 juta perusahaan. Organisasi ini juga merupakan suara dunia bisnis paling berpengaruh di organisasi-organisasi dunia, seperti PBB, WTO, dan G20. ICC meminta para pemimpin G-20 segera bersatu dalam pendekatan komprehensif dalam mengatasi covid-19 untuk melengkapi upaya luar biasa WHO. Pendekatan itu berkisar dari mengurangi tarif-tarif impor pasokan dan alat kesehatan. Kemudian imbauan terkait jaring pengaman sosial untuk sektor-sektor informal, stimulus bagi usaha mikro kecil menengah (UMKM), dan meningkatkan bantuan finansial untuk pelayanan kesehatan di negara-negara termiskin.

Sebagai Wakil Ketua ICC yang berbasis di Singapura, Cherie Nursalim menjelaskan pendekatan pragmatis dan efektif yang dilakukan negara itu agar dunia usaha dan sekolah tetap berfungsi, meski dilanda masalah covid-19 sejak Januari. Bagaimana negara yang paling padat dan tersibuk secara bisnis ini bisa menekan kurva mengantisipasi dan membatasi penderita positif sehingga tidak ada korban yang meninggal dan pembelajaran apa yang bisa diambil dari pengalaman ini? Begitu banyak artikel yang menggambarkan tindakan yang dilakukan di tingkat tinggi pemerintah.

Kami merasa terdorong untuk berbagi aksi ini dan meski situasi di setiap negara berbeda-beda, ada beberapa pembelajaran yang bisa diterapkan. Kami menduga yang terpenting adalah mindset (pola pikir). Satu pola pikir kewaspadaan di tingkat ‘luar biasa besar’ untuk melawan virus yang tidak terlihat ini. Ini merupakan perang, perang biologi. Singapura sebagai pemerintah, kementerian kesehatan, tim medis, bahkan unsur-unsur keamanan bersatu dan terlibat dalam setiap kasus terkonfirmasi.

Mereka menyebut warga yang terjangkit sebagai kasus untuk melindungi privasi dan identitas pasien. Kami menganalogikannya; kasus diperlakukan sebagai korban tidak tahu apa-apa yang badannya dililit senjata biologi. Mereka diperlakukan dengan hati-hati dan penuh hormat, dan dengan mengingat besarnya nasib yang akan dihadapi negara itu. Ketika alarm merah tanda positif berbunyi, tim medis merawat kasus, sedangkan unsur lain bergerak untuk mengidentifikasi orang-orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien ini.

Setiap kasus positif covid-19 yang teridentifikasi dites di laboratorium akan diikuti dengan case tracer (penyisir kasus), yang tugasnya ialah secara digital mewawancara dan melacak serta mencari tahu orang-orang yang terpapar dengan kasus. Langkah Singapura ini melebihi imbauan WHO yang hanya melacak jejak rekam kasus selama 14 hari ke belakang dalam dua hari.

Dalam dua jam mereka mengirim laporan ke Kementerian Kesehatan yang berisi nama-nama anggota keluarga, orang yang pernah duduk atau berbicara di sekolah, tempat kerja, lingkungan rumah, pasar, tempat ibadah, dan juga kapan interaksi itu terjadi. Setelah kontak intim (dekat) teridentifikasi, satu proses lagi dilakukan, yaitu memberi tahu badan-badan terkait untuk mengosongkan dan membersihkan tempat-tempat, memberi tahu dan melindungi orang yang diduga (suspect) dengan melakukan tes kesehatan. Bahkan jika kasus naik, Grab selama enam menit atau makan di tempat cepat saji, pengendara dan pramusajinya akan dilacak, dicek dan sebagian besar dikarantina di rumah selama 14 hari. Setiap orang yang diidentifikasi berpotensi memiliki virus ini didukung dan dimonitor.

Syarat-syarat isolasi dan karantina dijelaskan kepada mereka dan dengan tegas diterapkan serta diawasi, antara lain pengecekan melalui telepon dadakan, kunjungan tanpa pemberitahuan. Ini dilakukan untuk memastikan warga menaati aturan itu. Hal ini didukung aturan hukum yang tegas bagi individu yang menolak mengikuti perintah keselamatan selama dikarantina.

Bersamaan dengan tindakan tangan besi ini ada juga kebijakan kesejahteraan, seperti subsidi finansial dan akomodasi aman bagi mereka yang tidak mampu. Selain itu ada juga pengawasan imigrasi seperti di Kota Wuhan dan berbagi data intelijen seperti persekutuan jemaat keagamaan dengan 500 kasus positif di negara tetangga, yang mendorong Singapura melakukan langkah-langkah mitigasi.

Dirjen WHO Dr Tedros meminta negara-negara di dunia untuk ‘tidak memerangi kebakaran dengan mata tertutup’ dan ‘memutus rantai penularan’ melalui pemeriksaan, tracing dan isolasi secara luas. Begitu banyak penelitian yang mengonfirmasi kemanjuran langkah itu dalam mengendalikan penyebaran dan meratakan kurva sehingga fasilitas-fasilitas medis tidak menjadi kewalahan.

Singapura sejak lama berinvestasi untuk membina ahli-ahli bioteknologi dan juga membangun fasilitas laboratorium. Mereka bisa mengembangkan alat tes sendiri secara cepat dan menyumbangkannya ke negara-negara lain dalam langkah yang disebut Menteri Luar Negeri Dr Vivian Balakrishnan sebagai diplomasi alat tes. Sejarah SARS bisa jadi mengakar pada ‘pola pikir’ negara ini. Berfungsi seperti biasa di saat tidak biasa jarang terjadi. Singapura bisa menjadi opsi bagi keberlangsungan bisnis dan pragmatisme dalam menghadapi pandemi global.

Keputusan Tiongkok menutup (lockdown) Kota Wuhan dan mengendalikan wabah ini juga efektif dalam melawan covid-19, dengan tidak ada kasus baru di negara itu. Tiongkok pun mulai mengirim para ahli dan memasok alat medis ke negara lain mulai dari Amerika Serikat, Eropa, dan ASEAN. Tentu saja pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dan banyak sektor-sektor lain yang mulai ikut membantu untuk ikut membantu melindungi warga miskin dan komunitas pada umumnya.

Cerita-cerita tentang solidaritas bisa ditemukan di berbagai belahan dunia, gotong royong di Amerika, bernyanyi di Italia dan Spanyol, para pemimpin trisektor United in Diversity dan Youths Collab4Health di Indonesia, kegiatan berbasis kesadaran bersama GAIA (Global Activities of Intention and Action) dan World Economic Forum Young Global Leaders, bersatu dalam COVID Action Platform. Ketika roda ekonomi berada dalam situasi sulit dengan kontraksi terkait nyawa manusia dan kegiatan ekonomi di seluruh dunia, sudah saatnya untuk bersatu dalam jalinan ‘kemanusiaan yang saling terkait’. Mungkin ini ialah satu lingkaran keseimbangan (balancing loop) dari ‘planet kita’ agar tercipta satu keseimbangan. Ini bisa jadi virus ‘micron’, tapi hal ini menjadi pembelajaran besar bagi kemanusiaan.

Disamping komunalitas dan agamisnya, masyarakat Indonesia juga ditengarai pragmatis. Karakter itu bisa dijumpai dalam dimensi agama dan politik. Pragmatisme ditandai dengan mengutamakan nilai guna daripada idealitas. Dalam politik kita, terutama setelah demokrasi langsung dalam banyak gawe politik, para pemilih terkesan pragmatis, tidak idealis. Pemilu dan pilkada berjalan dengan memegang pragmatisme massa.

Sudah menjadi rahasia umum, karena diperbincangkan tidak hanya di forum ilmiah, tetapi juga di warung-warung kopi, gardu-gardu ronda, dan tongkrongan lain. Masyarakat kita mudah tergoda untuk menerima amplop dari para kandidat peserta laga pilihan lokal dan nasional, baik eksekutif atau pun legislatif. Bahkan diskusi terbuka rata-rata menghitung berapa jumlah per amplop yang diterima dari para pemilih sebelum pergi ke bilik pencoblosan. Pragmatisme ini terlihat juga dalam banyak keputusan politis sekala kecil dan besar, tidak hanya dalam hal memilih kandidat pemimpin. Watak pragmatisme lain bisa dilhat pada perkawinan antara agama dan konsumerisme. Ini tentu menguntungkan pasar ekonomi bagi yang menangkap itu sebagai peluang.

Banyak usaha bisnis sukses karena dikaitkan dengan faktor sentimen keimanan: biro perjalanan ziarah ke tempat suci, pemasaran pakaian simbol ketaatan, obat-obatan dan mantra-mantra penyembuhan, dan lain-lain. Toko laris di kota-kota besar terlihat pada produk fashion ke arah kesalehan. Di bandara-bandara seluruh negeri penuh sesak dengan penumpang tujuan ziarah ke Tanah Suci. Ini adalah perkawinan baru di era global, agama dan pasar ekonomi. Pragmatisme melahirkan kelenturan dan ini kesempatan bagi mitigasi penyebaran virus corona.

Pertimbangan-pertimbangan ekonomi jangka pendek dan panjang bisa diterangkan kepada masyarakat, bahwa jika virus ini mengamuk dan menjangkiti warga, siapa yang akan menggerakkan roda ekonomi kita? Efek ekonomi dari berbagai sektor, swasta ataupun negeri hendaknya dijelaskan dengan mudah. Jika pemerintah China menerapkan total lockdown dalam melawan virus corona, negara-negara Eropa dengan caranya sesuai dengan struktur dan disiplin warganya, Amerika juga sesuai pilihan politis Donald Trump, Indonesia hendaknya bijak tetapi tegas. (*)

*)Penulis : Fuzna Amaliana, UIN Walisongo

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Wartacakrawala.com

*)Opini di Wartacakrawala.com terbuka untuk umum

*)Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim

Total
20
Shares
20 Share
0 Tweet
0 Share
0 Share
0 Share
0 Share
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Ini Dia Hikmah Dibalik Pandemi Covid-19 Terhadap Kondisi Lingkungan

Next Post

Peran Agama Islam dalam Memutus Mata Rantai Covid-19

Related Posts
Total
20
Share