Peran Mahasiswa dalam Memberantas Korupsi

Avatar
Asrifah Ridhatulain H.S, Mahasiswi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang

Wartacakrawala.com – Korupsi yang terjadi di Indonesia saat ini, sudah dalam posisi yang sangat parah dan begitu mengakar dalam setiap sendi kehidupan. Perekmbangan praktek korupsi dari tahun ke tahun semakin meningkat, baik dari kuantitas atau jumlah kerugian keuangan Negara maupun dari segi kualitas yang semakin sistematis, canggih serta lingkupnya sudah meluas dalam seluruh aspek masyarakat.

Meningkatnya tindak pidana korupsi yang tidak terkendali akan membawa bencana tidak saja terhadap kehidupan perekonomian nasional tetapi juga pada kehidupan berbangsa dan bernegara pada umumnya. Maraknya kasus tindak pidana korupsi di Indonesia, tidak lagi mengenal batas-batas siapa, mengapa, dan bagaimana. Tidak hanya pemangku jabatan dan kepentingan saja yang melakukan tindak pidana korupsi, baik di sekitar public majupun privat, tetapi tindak pidana korupsi sudah menjadi suatu fenomena.

Mahasiswa, aset berharga yang sangat menentukan masa depan bangsa, sesungguhnya dapat menciptakan solusi atas segala permasalahan di Negara ini. Namun, kali ini mereka seakan bungkam. Tak tau harus berbuat apa, harus melangkah kemana, dan bagaimana harus bergerak. Tak seperti pendahulu mereka, yang sudah banyak membuat berbagai perubahan besar bagi negeri ini. Sebut saja era reformasi saat ini, yang diperjuangkan oleh mahasiswa masa itu. Tak akan ada reformasi tanpa ada pergerakan mahasiswa. Praktik korupsi yang sudah sangat menghawatirkan dan nyata dampaknya membuat perubahan harus segera dilakukan untuk menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran. Daripada harus senasib dengan VOC yang hancur karena korupsi lebih baik segera bertindak untuk melakukan perubahan apapun resikonya demi era reformasi saat ini.

Baca juga: Apa yang Harus Ditiru KPK dari ICAC untuk Penguatan Pemberantasan Korupsi

Mahasiswa masa kini hanya memikirkan dirinya sendiri daripada bersikap kritis terhadap fenomena yang terjadi di sekitar mereka. Lunturnya idealisme mahasiswa masa kini disebabkan oleh arus globalisasi yang sangat cepat sehingga mereka lebih cenderung memikirkan gaya hidup dan budaya konsumtif. Mereka seakan tidak merasakan transformasi yang terjadi dari fase siswa menuju mahasiwa. Mereka menjadi terlalu fokus terhadap kegiatan akademik mereka semata, sehingga seakan mereka tak kritis dengan fenomena yang terjadi di sekitar mereka. Hal tak lain dan tak bukan adalah akibat dari kebijakan dan mindset pendidikan masa kini. Oleh karena itu, indicator kesuksesaan masa kini hanyalah angka-angka penilaian akademik. Padahal kehidupan di luar dunia akademik lebih berdampak terhadap kesuksesan seorang mahasiswa. Inilah yang menyebabkan pergerakan mahasiswa masa kini menjdi lesu, tak segarang pendahulunya di masa orde baru.

Mahasiswa harus berani berpikir lebih luas, bahwa penilaian akademik hanyalah angka, tidak terlalu berdampak dalam membentuk karakternya sebagai mahasiswa. Hal yang sesungguhnya dapat membentuk karakter seorang mahasiswa adalah kepekaan mereka terhadap fenomena yang terjadi di sekitar meraka. Mereka harus dapat lebih reaktif terhadap segala yang terjdi di bangsa ini. Sehingga peran mahasiswa sebagai Agen of Change dapat lebih terasa, baik oleh masyarakat maupun pemerintah. Termasuk juga mengawal pencegahan dan pemberantasan korupsi. Untuk mewujudkan hal tersebut, mahasiswa dapat memulai dari lingkup yang lebih kecil. Yaitu menciptakan lingkungan kampus yang berintegritas. Oleh karena mereka adalah calon pemimpin bangsa di masa depan, melatih diri sejak dini untuk menghilangkan perilaku-perilaku koruptif adalah termasuk langkah dalam pencegahan korupsi di masa mendatang. Kemudian mahasiswa juga dapat berperan untuk melakukan pencegahan denga terjun langsung ke masyarakat. Mahasiswa dapat mensosialisasikan segala hal yang merupakan pencegahan terjadinya korupsi dan menghilangkan budaya perilaku koruptif di dalam masyarakat. Kemudian yang lebih vital lagi adalah mahasiswa harus mengontrol segala kebijakan yang dihasilkan oleh pemerintah. Pemerintah butuh untuk diawasi dan dikritisi supaya terwujud kebijakan-kebijakan yang dapat menghasilkan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat. Termasuk hal terkait pemberantsan korupsi, mahasiswa bisa menuntut pemerintah untuk lebih aktif dan serius dalam segala upaya pemberantasan korupsi.

Sulit, namun tak mustahil, Indonesia dapat menjadi negeri yang bebas dari korupsi. Dengan mengoptimalkan peran dari mahasiswa, kita dapat mengawal segala upaya pemberantasan korupsi. Kemiskinan dan pengangguran dapat lebih ditekan dan juga masalah kesehatan pun dapat teratasi. Di era ini, kita menunggu pergerakan mahasiswa yang dapat menciptakan perubahan, sama seperti pendahulunya yang sukses membawa Indonesia menjadi seperti sekarang.

Hong Kong sebagai Negara maju juga pernah mengalami kondisi dimana banyak terdapat kasus korupsi di negaranya, namun dengan ICAC (Independent Commission Against Corruption) Hong Kong bias bangkit. ICAC merupakan organisasi yang berdedikasi dalam bidang pemberantasan korupsi melalui strategi penegakan hokum, pencegahan dan pendidikan. Indonesia pun bias mengadopsi strategi ICAC untuk digunakan di KPK (Komisi Pemberantas Korupsi) sebagai lembaga yang berdedikasi dalam bidang anti-korupsi di Indonesia. KPK bekerja sebagai lembaga independen dan bebas dari pengaruh pihak mana pun. Dibutuhkan sumber daya manusia yang bagus dalam proses pengadopsian strategi ICAC. Misalnya pada saat pengiriman anggota KPK ke Hongkong untuk mengikuti pelatihan ICAC anggota harus mampu menyerap ilmu yang diterimanya. Implementasi strategi ICAC di Indonesia membutuhkan banyak auditor forensic guna mempercepat proses penyelesaian kasus fraud. Mahasiswa sebagai penerus bangsa perlu untuk menambah pengetahuannya dalam bidang audit forensik, diawali dengan memiliki persepsi dasar audit forensic yang dapat diperoleh melalui bangku kuliah atau kegiatan informal lainnya.

Semoga kedepannya Indonesia bisa banyak belajar dari beberapa Negara tetangga yang mampu menyelesaikan masalah korupsi sampai ke akar-akarnya. Sebab masalah ini sudah menjadi hal yang meresahkan.

*)Penulis : Asrifah Ridhatulain H.S, Mahasiswi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Wartacakrawala.com

*)Opini di Wartacakrawala.com terbuka untuk umum

*)Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim

Total
0
Shares
0 Share
0 Tweet
0 Share
0 Share
0 Share
0 Share
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Apa yang Harus Ditiru KPK dari ICAC untuk Penguatan Pemberantasan Korupsi

Next Post

Pentingnya Pendidikan Anti Korupsi dalam Menumbuhkan Kesadaran Hukum

Related Posts
Total
0
Share