Cakrawala News, Malang – Sekitar 125 anak muda dari kalangan Generasi Z di Kota Malang mengikuti talk show Nya Para Gen-Z yang mengangkat tema “Beda Generasi, Beda Frekuensi: Di Medsos Nyambung, di Rumah Binging!”, Sabtu (12/9/2026).
Kegiatan yang digelar di DeKata Cafe, kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang, tersebut menjadi ruang dialog bagi anak muda untuk membicarakan pengalaman mereka menggunakan media sosial sekaligus persoalan komunikasi dengan orang tua.
Talk show yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Griya Curhat Keluarga (GCK) itu menghadirkan sejumlah pembicara dengan latar belakang berbeda, yakni Coach Ilham, Hikmah Bafaqih, dan Anabel, dengan Intan Nihayah sebagai host. Acara juga diramaikan penampilan Gwend Acoustic.
Tema yang diangkat sengaja dibuat dekat dengan kehidupan Gen Z. Media sosial menjadi ruang yang membuat anak muda merasa mudah terkoneksi, tetapi di sisi lain komunikasi dengan orang tua di rumah tidak selalu berjalan dengan frekuensi yang sama.
Coach Ilham: Jangan Hanya Menuntut Anak Berubah
Coach Ilham melihat persoalan komunikasi antara generasi tidak cukup diselesaikan dengan meminta anak muda lebih memahami orang tua.
Menurut dia, orang tua juga perlu memahami perubahan karakter komunikasi generasi muda yang tumbuh dalam lingkungan digital.
Pendekatan kepada Gen Z, kata dia, perlu dibangun melalui komunikasi yang setara, terbuka, dan tidak menghakimi. Anak muda perlu diberikan ruang untuk menyampaikan pendapat dan pengalaman mereka tanpa langsung dianggap salah.
“Anak muda tidak selalu membutuhkan ceramah. Sering kali mereka membutuhkan ruang untuk didengar terlebih dahulu,” demikian perspektif yang mengemuka dalam pembahasan Coach Ilham.
Ia juga menekankan pentingnya membangun komunikasi yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga proses. Dengan begitu, hubungan antara orang tua dan anak tidak berhenti pada relasi “yang menyuruh” dan “yang disuruh”.
Hikmah Bafaqih: Orang Tua Perlu Masuk ke Dunia Anak
Sementara itu, Hikmah Bafaqih menyoroti tantangan komunikasi keluarga dari perspektif perempuan, anak, dan dinamika keluarga.
Menurut dia, perkembangan teknologi membuat dunia anak semakin luas. Media sosial bukan sekadar tempat hiburan, tetapi telah menjadi bagian dari ruang pergaulan, ekspresi, pencarian informasi, bahkan pembentukan identitas anak muda.
Karena itu, orang tua tidak cukup hanya melarang atau mengawasi penggunaan media sosial.
Orang tua justru perlu mengenal dunia yang sedang dihadapi anak-anaknya.
Perspektif Hikmah menekankan bahwa komunikasi keluarga harus dibangun dengan prinsip mendengar sebelum menghakimi. Ketika anak merasa aman untuk bercerita, keluarga memiliki peluang lebih besar untuk mengetahui persoalan yang sebenarnya sedang dihadapi anak.
“Kalau ingin anak bercerita, rumah harus terlebih dahulu menjadi tempat yang aman untuk bercerita,” menjadi salah satu perspektif penting yang relevan dengan tema kegiatan.
Menurutnya, perbedaan generasi adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Yang perlu dibangun adalah jembatan komunikasi agar perbedaan tersebut tidak berubah menjadi jarak.
Anabel: Media Sosial adalah Ruang Ekspresi, Bukan Sekadar Hiburan
Dari perspektif konten kreator atau influencer, Anabel membawa pembahasan pada realitas kehidupan Gen Z di media sosial.
Bagi generasi yang sangat dekat dengan platform digital, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Anak muda menggunakannya untuk berkomunikasi, mencari referensi, membangun jejaring, hingga mengekspresikan dirinya.
Namun, kedekatan dengan media sosial juga membutuhkan kemampuan literasi digital.
Gen Z perlu memahami bahwa apa yang muncul di media sosial tidak selalu menggambarkan realitas secara utuh. Kemampuan memilah informasi, memahami konteks, menjaga etika komunikasi, serta bertanggung jawab terhadap konten menjadi bagian penting dari kecakapan digital.
Dalam perspektif Anabel, menjadi aktif di media sosial bukan hanya soal berani tampil, tetapi juga mampu bertanggung jawab terhadap apa yang dibagikan dan dikonsumsi.
Bukan Menyalahkan Gen Z, tetapi Mencari Titik Temu
Ketiga perspektif tersebut bertemu pada satu persoalan: perbedaan generasi tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berkomunikasi.
Gen Z memiliki cara berkomunikasi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka terbiasa dengan komunikasi cepat, visual, interaktif, dan terbuka. Sementara orang tua tumbuh dengan pola komunikasi yang cenderung lebih konvensional.
Perbedaan tersebut kemudian dapat memunculkan situasi paradoks: di media sosial anak merasa sangat terkoneksi, tetapi di rumah justru merasa sulit menyampaikan isi hati.
Karena itu, forum tersebut tidak diarahkan untuk mencari siapa yang paling benar antara anak dan orang tua. Sebaliknya, kegiatan menjadi ruang untuk memahami mengapa masing-masing generasi memiliki “frekuensi” yang berbeda.
Dengan diikuti sekitar 125 peserta Gen Z Kota Malang, talk show ini sekaligus menunjukkan bahwa isu komunikasi keluarga dan literasi media sosial masih menjadi perhatian penting bagi anak muda.
Peserta tidak hanya mendapatkan perspektif dari pemerhati perempuan dan anak, tetapi juga dari coach serta figur yang dekat dengan dunia media sosial.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan hiburan dan special performance Gwend Acoustic, serta sesi interaksi yang dikemas dengan suasana santai khas anak muda.
Pesan besarnya sederhana: kalau di media sosial Gen Z bisa “nyambung”, mengapa di rumah harus terus “bingung”? Yang dibutuhkan bukan generasi yang sama, tetapi kemauan untuk saling memahami.






