Respon Emosi pada Dampak Ikutan Covid-19 Lebih Mencuat

Avatar
Ilustrasi dampak covid-19 teehadap emosi

Wartacakrawala.com – The Pandemic of Psychology milik Taylor (2019) menjelaskan bagaimana pandemi penyakit mempengaruhi psikologis orang secara luas dan masif, mulai dari cara berpikir dalam memahami informasi tentang sehat dan sakit, perubahan emosi (takut, khawatir, cemas) dan perilaku sosial (menghindar, stigmasisasi, perilaku sehat).

Selain itu, pandemi psikologi, menimbulkan prasangka, dan diskriminasi outgroup yang berpotensi menimbulkan kebencian dan konflik sosial. Misalkan, penamaan virus corona dengan nama virus Wuhan atau Virus China di awal wabah, telah menimbulkan prasangka, kebencian dan diskriminasi terhadap warga china di beberapa negara, seperti di Autsralia dan Amerika (Tempo.com, 2020).

Pandemi COVID-19, telah mengubah manusia dalam berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Pandemi psikologi lebih diartikan bagimana penyakit yang menyebar secarap cepat dan luas memberikan dampak psikologis yang signifikan pada manusia.

Ada tiga elemen dalam pandemi, yaitu elemen yang menyebabkan infeksi (virus, bakteri), host (manusia) yang berkaiatan dengan faktor psikologis dalam mengatasi ancaman penyakit tersebut. Terakhir, lingkungan sosial dan fisik yang membantu manusia menghadapi pandemi (Taylor, 2019). Ketiga elemen tersebut saling berinteraksi saling mempengaruhi dalam situasi pandemi. Psikologi pandemi telah mengubah psikologis manusia dalam memahami diri dan relasi sosial.

Sebenarnya perubahan emosi, seperti khawatir, cemas dan stres merupakan respon biasa ketika menghadapi situasi pandemi. Hal itu merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri atau tanda bahwa ada ancaman yang kita hadapi. Namun, apabila berlebihan, maka akan menganggu kondisi psikologis individu, seperti mengalami depresi. Menurut penulis, secara umum kondisi psikologis pada masa pandemi, masih dalam tataran normal yang perlu dikhawatirkan adalah dampak pandemi COVID-19 terhadap ekonomi.

Ekonomi berkaitan dengan pekerjaan dan kebutuhan hidup. Data Kementerian ketenagakerjaan mencatat sampai tanggal 10 Apri 2020, sudah ada 1,5 juta yang kehilangan pekerjaan karena COVID-19 (cnbnindonesia, 2020). Ketika kebutuhan hidup terganggu, maka kondisi ini akan rentan menimbulkan gangguan psikologis lebih hebat dibandingkan COVID-19 itu sendiri. Artinya, pandemi COVID19 secara tidak langsung mempengaruhi kondisi psikologis. Bagimanaa bila kondisi pandemi COVID-19 berlangsung lama? situasi ini tidak terbayangkan, bagaimana kita menghadapi situasi yang penuh ancaman, ketidakpastian dan ambigu.

Relasi sosial terbatas, tidak dapat berkumpul dengan keluarga, menimbullkan perasaan kehilangan, kesendirian dan kesepian yang berpotensi memperburuk emosi individu.
Hasil studi Brooks, dkk (200) pada 24 artikel tentang Dampak Karantina Wilayah menunjukkan sebagian besar penelitian yang diulas melaporkan efek psikologis negatif termasuk gejala stres pasca-trauma, kebingungan, dan kemarahan. Stresor termasuk durasi karantina yang lebih lama, ketakutan akan infeksi, frustrasi, kebosanan, persediaan yang tidak memadai, informasi yang tidak memadai, kerugian finansial, dan stigma. Situasi psikologis ini yang dirasakan negara-negara yang mengalami karantina atau lockdown, seperti Itali, Spanyol, Rusia, India dan Iran.

Mengutip dari (kompas.com; 2020) dengan judul Saat Pandemi Corona, Anjuran “Berpikir Positif” Justru Berbahaya, menegaskan bahwa anjuran berpikir positif dengan harapan agar meningkatkan sistem kekebalan tubuh justru berisiko menimbulkan bias optimisme yang berperan besar memunculkan ketidakpatuhan suatu himbauan. Bias optimisme mewujud dalam tiga bentuk, yaitu: (1) Ilusi kontrol, yaitu keyakinan berlebihan dapat mengendalikan situasi eksternal; (2) Ilusi superioritas, yaitu keyakinan bahwa seseorang memiliki kelebihan daripada orang kebanyakan, (3) Ilusi kemungkinan, yaitu ketika seseorang merasa kecil kemungkinannya dirinya akan mengalami hal negatif–dalam konteks ini yaitu, tertular atau menularkan penyakit. (*)


*)Penulis: M. Iqbal Rayid Dwi Saputra, Mahasiswa Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Wartacakrawala.com

*)Opini di Wartacakrawala.com terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.

*)Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Mahasiswa UIN Walisongo Berikan Pelatihan Pembuatan Hand Sanitizer

Next Post

Mahasiswa KKN UIN Walisongo Adakan Penyemprotan Disinfektan

Related Posts